KAJIAN ISLAMI "GLOW UP KELUARGA SEHAT, HEBAT, BAHAGIA DIMULAI DARI RUMAH"

Oleh : Dr. Eko Yuliarti Siraj. S.Sos., M.Si. (Ketua Yayasan Rumah Ibu Indonesia, Pakar Ilmu Keluarga IPB & Syariah Al Hikmah)
Moderator : Ibu Nurma, S.Pd. (Guru TKIT Al Biruni)
Sabtu, 19 September 2026 (Pukul. 08.30 – Selesai)
Di  Aula SDIT Al Biruni

Beliau menjelaskan, Mendidik Anak itu Tanggung Jawab Utama Orang Tua, Bukan Sekolah

Banyak orang tua beranggapan bahwa menyerahkan anak ke sekolah favorit secara otomatis melepaskan kewajiban pengasuhan. Padahal, merujuk pada Surah At-Tahrim ayat 6 (“Qu anfusakum wa ahlikum nara”), perintah untuk menjaga diri dan keluarga dari siksa api neraka berada penuh di pundak orang tua.

Sekolah dan para guru sejatinya merupakan pihak yang dititipi atau mitra pembantu untuk mengajarkan disiplin ilmu yang tidak dapat diajarkan di rumah. Di akhirat kelak, pertanggungjawaban atas tumbuh kembang dan pembentukan karakter anak akan dimintai langsung dari orang tua, bukan dari lembaga pendidikan. Oleh karena itu, rumah harus menjadi basecamp utama dan tempat pulang terbaik bagi anak.

Selanjutnya beliau menjabarkan Tiga Pilar Utama Menuju Keluarga Glow Up

Untuk mengupayakan rumah tangga yang kokoh dan penuh keberkahan, terdapat tiga pilar utama yang perlu dibangun secara konsisten di dalam rumah:

1. Keluarga Sehat: Benteng Gizi dari Dapur Rumah

Kesehatan fisik dan kecerdasan anak tidak ditentukan oleh program makanan di luar, melainkan berakar dari dapur rumah. Dapur seorang ibu merupakan garis terdepan dalam mencegah kekurangan gizi kronis dan stunting.

  • Prinsip Halal dan Thayib: Sesuai petunjuk Surah Al-Baqarah ayat 168, makanan keluarga tidak hanya harus halal dari sisi cara memperolehnya, tetapi juga thayib (bergizi, baik, dan minim proses kimia).
  • Panduan “Isi Piringku”: Kemenkes telah memperbarui konsep “4 Sehat 5 Sempurna” menjadi Isi Piringku. Porsi makan ideal terdiri dari 50% sayur dan buah segar, 25% karbohidrat, serta 25% protein. Susu tidak lagi menjadi penyempurna wajib karena kebutuhan protein dapat dipenuhi dari bahan lokal yang terjangkau seperti ikan, telur, dan tempe.
  • Aktivitas Fisik: Kesehatan juga ditopang oleh kebiasaan bergerak rutin, setidaknya 30 menit sehari untuk orang dewasa dan 60 menit sehari untuk anak-anak.
 

2. Keluarga Hebat: Menanamkan Nilai Agama dan Komunikasi Al-Qur’an

Rumah merupakan sekolah pertama (madrasatul ula) tempat anak menyerap emosi dan nilai moral sejak masih dalam kandungan. Untuk membentengi anak dari ancaman moral lingkungan luar—seperti maraknya penyimpangan LGBT—orang tua wajib menanamkan prinsip keislaman dan identitas diri yang kuat sejak dini.

  • Santun dalam Berkomunikasi: Al-Qur’an mengajarkan pola komunikasi yang penuh kasih sayang, seperti sapaan Ya bunayya (wahai anakku sayang) dalam nasihat Luqman dan kisah Nabi Ibrahim.
  • Membangun Critical Thinking: Orang tua disarankan membuka ruang dialog interaktif dan melatih anak berpikir kritis daripada menggunakan instruksi satu arah atau omelan yang tidak efektif.
  • Bijak Membatasi Gawai: Pengelolaan gawai (gadget) tidak cukup hanya dengan membatasi durasi layar (screen time), tetapi menuntut pendampingan konten (media plan), penyaringan (filtering), serta contoh teladan langsung dari orang tua di rumah.
 

3. Keluarga Bahagia: Memahami Fitrah, Kelembutan, dan
Musyawarah Kunci kebahagiaan rumah tangga tercipta ketika suami dan istri saling memahami fitrah ciptaan masing-masing. Perempuan dibekali modal hingga 21.000 kata per hari serta membutuhkan perhatian dan ruang rehat, sementara laki-laki memiliki modal sekitar 7.000 kata per hari sebagai pemimpin (qawwam) yang menyukai penghormatan.

  • Kelembutan dan Humoris: Suasana rumah tangga dibangun di atas akar emosi kelembutan dan hubungan yang hangat serta penuh humor (mula’abah).
  • Budaya Musyawarah (Syura): Setiap keputusan rumah tangga—mulai dari keuangan hingga pendidikan anak—hendaknya diambil melalui diskusi bersama antara suami dan istri.
  • Mengamalkan Doa Al-Furqan: 74: Pasangan diajak untuk terus memohon agar dikaruniai keturunan sebagai penyenang hati (qurrota ‘ayun) sekaligus mampu menjadi teladan bagi orang-orang bertakwa (imamal lil muttaqin) dalam kehidupan bermasyarakat.
 

Kesimpulan

Proses mengasuh anak dan mengelola rumah tangga adalah perjalanan belajar yang tidak pernah usai, dimulai dari hari pertama pernikahan hingga memasuki masa tua. Memahami materi ini bukan untuk menilai kekurangan keluarga orang lain, melainkan menjadi cermin untuk terus membenahi rumah tangga sendiri demi meraih kebaikan di dunia dan akhirat